Senin, 05 Juli 2021

  Oleh : Erica Dwi Wulandari / B91218103 Praktikum JR2



Bertubuh sedikit berisi, bermata sipit, berkulit sawo matang, dan memiliki senyuman yang manis merupakan pria kelahiran Blitar yang merantau ke Surabaya dengan nama lengkap Syaifuddin Zuhri. Pria yang berprofesi sebagai dosen praktikum diberbagai perguruan tinggi sejak tahun 1999. Pria ini biasa dikenal dengan sapaan Pak Didin oleh para mahasiswa dan kerabat dosen lainnya. Ia adalah dosen yang pernah mengajar keilmuan yang berhubungan langsung dengan dunia jurnalistik dan broadcasting di Unitomo, UPN, IKIP PGRI Surabaya, dan yang terakhir di IAIN SUNAN AMPEL Surabaya. 

 

Pak Didin mengajar di IAIN SUNAN AMPEL Surabaya sejak tahun 2001. Ia dipercaya menjadi salah satu dosen praktisi yang mengajar ilmu dibidang komunikasi khususnya yang terkait dengan dunia broadcast dan siaran radio. Tetapi didalam perjalanan mengajar di universitas tersebut, ia berusaha untuk mencapai kompetensi standart yang telah diberlakukan, guna memperkaya keilmuan yang dimiliki sebagai bekal dimasa depan untuk terjun didunia broadcast. 

 

Dosen yang sederhana dan penuh kewibawaan ini memiliki pengalaman dalam bidang jurnalistik yang cukup memuaskan. Ia sedari dulu aktif dalam mengikuti segala aktivitas yang bergerak dibidang broadcasting, khususnya siaran Radio. Ia juga sempat berkecimpung dalam KORSI DUMA RRI Surabaya, yang merupakan wadah bagi para mahasiswa dalam mengembangkan bakatnya di dunia broadcast sejak tahun 1987 sampai dengan tahun 1990. Selain itu, ia juga mengikuti kegiatan di luar kampus dibidang jurnalistik yang bernama SIDUMA (Siaran Dunia Mahasiswa). 

 

Hingga kini, dosen yang penuh ketenangan dan kehangatan ini dipercayai untuk mengajar mata kuliah Hukum Etika Media dan segala teori yang berkaitan langsung dengan jurnalistik. Tidak hanya itu, ia juga dikenal sebagai sosok dosen yang penuh dengan keikhlasan didalam menyampaikan sebuah ilmu bagi para mahasiswa yang ia ajar. Ia juga seringkali berucap bahwa keinginan yang tersirat dalam benaknya tidak lain adalah melihat para mahasiswanya sukses dalam menekuni segala bentuk passion atau talenta yang dimilikinya. 

 

Dosen berparas bundar ini tak pernah sedikitpun merasa lelah saat mengajar. Yang ada justru ia merasa senang dengan amanah yang tengah dikerjakan. Ia adalah sosok dosen yang sabar dalam berlisan. Tak ada satu pun kata yang terucap menyakitkan. Karena itu banyak sekali mahasiswa yang merasa tentram saat diajar. 

 

Pak Didin adalah orang yang tak pernah sekalipun memikirkan imbalan dari apa yang tengah diupayakan. Ia adalah sosok yang begitu tekun, pekerja keras, dan mau berusaha untuk dirinya dan orang – orang disekitarnya. Dia selalu belajar atas segala hal yang pernah ia jumpai dalam perjalanan hidupnya. Walau sulit, namun tak mampu membuatnya gentar dan berbalik arah. 

 

Ia selalu mengatakan bahwa yang namanya hidup tak pernah terlepas dari yang namanya rintangan. Dan itu sudah menjadi hal yang tak mungkin lagi bisa terelakkan. Sebagaimana pada masa – masa sulit seperti hari ini, dimana ada jarak yang membentang memaksa tidak ada namanya pertemuan. Segala hal dilakukan dengan menggunakan jaringan. Namun hal ini tak membuatnya gentar untuk terus menyuarakan khasanah keilmuan. 

 

Ya begitulah sosoknya, gigih dan tak pernah putus berjuang. Tak pernah sedetikpun terbesit dalam angannya untuk membranding namanya dalam jajaran kependidikan. Tujuannya hanya ingin membentuk generasi yang menjunjung tinggi nilai – nilai yang telah diajarkan. 

Bahagianya hanya sekedar melihat anak didiknya memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam hal yang telah diajarkan. 

 

Itulah ia, sosok yang senantiasa meyakinkan bahwa pandemic bukanlah hambatan untuk terus belajar. Meyakinkan para mahasiswanya untuk terus bangkit dan beradaptasi dengan lingkungan belajar yang mungkin baru dirasakan. Tetapi tak lupa untuk tetap bekerja secara professional dan maksimal, serta menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. 

 

”Jangan putus asa, mari terus belajar meraih peluang untuk jadi pemenang. Terus perdalam dan perkaya ilmu yang kita miliki secara praktisi sampai mampu menciptakan sebuah karya yang sesuai dengan inovasi.” Begitulah pesan yang seringkali disampaikan kepada mahasiswanya diberbagai kesempatan. 

 

Ia sangat ingin sekali melihat para mahasiswanya memiliki kesiapan yang matang setelah lulus untuk terjun di pasar kerja, bahkan ikhlas mengabdikan diri dalam masyarakat dengan keilmuan yang dimiliki. Dan yang pastinya, menjunjung tinggi nilai – nilai yang didapatkan dari menimba ilmu di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Serta membawa nilai – nilai profesionalitas dan integritas dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi. 

 

Selama menjadi dosen di UINSA, ada beberapa hal yang mungkin belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Dimana ia ingin membuat fakultas dakwah dikenal baik oleh masyarakat banyak, dan membuatnya memiliki nilai terbaik dibandingkan fakultas lainnya. Ia juga ingin adanya siaran secara live dalam kampus dari pagi hingga menjelang sore, layaknya siaran radio yang profesionalitas meskipun masih menggunakan format kampus. 

 

Ya radio adalah jalan terjal beliau selain mengajar. Namun untuk saat ini, ia lebih sering menghabiskan banyak waktunya untuk mengajar dan memperbanyak keilmuannya didunia broadcast. Sehingga setelah pensiun, ia punya bekal dalam dunia jurnalistik. Jadi tak heran bila ia memiliki kemampuan menjadi seorang reporter dan hal – hal lain yang berikatan dengan broadcast dan jurnalistik. Karena prospek kerja untuk dunia broadcast dan jurnalistik tergolong cukup luas.

 

Ia juga mengatakan bahwa sesulit apa rintangan dan hambatannya, ia cukup mensyukuri dan melakukannya dengan santai saja. Karena mengingat hal ini adalah menjadi bagian dari yang disenangi, sehingga bagaimanapun beratnya akan tetap terasa ringan karena suka. Sebagaimana tuturnya bila tak ada pekerjaan yang tidak mengandung resiko. Semua pasti ada suka dan dukanya. Tapi ia sangat menyenangi apa yang setiap ia usahakan dan kerjakan. Termasuk fokus dalam mengajar. 

 

Banyak sekali harapan yang ia taruh kepada para mahasiswa yang diajarnya. Salah satunya yaitu ingin melihat mereka untuk terus berupaya mengembangkan ilmu yang telah disampaikan, baik itu jurnalistik, broadcasting, maupun etika hukum media. Dan selalu siap untuk menghadapi masyarakat, pasar kerja dan juga situasi yang terus berubah – ubah. Terus berusaha untuk meningkatkan kekreatifan dan inovasi dalam berkarya, mengingat saat ini berada dizaman digital. Dimana jika tidak beradaptasi dan menyesuaikan diri maka akan jauh tertinggal. 

 

“Yang membuat kita bisa sukses dan berhasil itu bukan fakultas, tapi keberanian dalam mengambil tantangan ataupun resiko saat berada di dunia kerja.” 

 

Dosen yang ramah dan baik hati ini selalu mengatakan : 

 

“Saya senang takdir membawa saya pada tempat ini, walaupun tidak menjadi dosen tetap dan hanya sekedar dosen praktikum, tetapi saya senang bisa sharing segala hal tentang ilmu ataupun knowledge dengan para mahasiswa maupun kerabat dosen yang lainnya.” 

 

Ia juga tak pernah lupa mengingatkan mahasiswanya untuk terus berlatih dengan sungguh – sungguh mengasah skill kemampuan yang dimiliki atau passion yang diminati. Selain itu, meminta mahasiswanya untuk aktif dalam mengikuti organisasi maupun kegiatan kampus guna membentuk relasi dan menambah pengalaman hidup. Serta turut aktif dalam mengikuti webinar, workshop, maupun seminar untuk memperkaya khasanah keilmuan yang dimiliki. 

 

Ya begitulah sosoknya, ia merupakan salah satu dosen yang dapat menjadi teladan bagi kita semua agar selalu menemukan motivasi dan cara pandang yang lain dalam mencintai segala pekerjaan yang kita jalani. Karena pointnya bekerja tidak hanya sekedar mencari uang saja, tetapi juga memberikan manfaat kepada semua pihak yang ada disekitar kita. Dan dengan ciri khas mengajarnya yang sederhana dan santai, membuat semua orang respect kepada setiap yang telah diusahakannya. Karena sebanyak apapun mahasiswanya melakukan kesalahan, ia tak pernah marah ataupun merendahkannya, tapi yang ada justru menerima dan memaafkannya serta merangkulnya untuk terus bangkit dan menjadi sosok yang lebih baik dari yang sebelumnya. Itulah sebabnya ia cocok menyandang gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

 


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Labels

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2021 GROUP 1 KPI FDK UINSA -- Powered by Blogger -