- Back to Home »
- news »
- Takdir Yang Menggiringku Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Oleh : Erica Dwi Wulandari / B91218103 Praktikum JR2
Bertubuh sedikit berisi, bermata
sipit, berkulit sawo matang, dan memiliki senyuman yang manis merupakan pria
kelahiran Blitar yang merantau ke Surabaya dengan nama lengkap Syaifuddin
Zuhri. Pria yang berprofesi sebagai dosen praktikum diberbagai perguruan tinggi
sejak tahun 1999. Pria ini biasa dikenal dengan sapaan Pak Didin oleh para
mahasiswa dan kerabat dosen lainnya. Ia adalah dosen yang pernah mengajar
keilmuan yang berhubungan langsung dengan dunia jurnalistik dan broadcasting di
Unitomo, UPN, IKIP PGRI Surabaya, dan yang terakhir di IAIN SUNAN AMPEL
Surabaya.
Pak Didin mengajar di IAIN SUNAN
AMPEL Surabaya sejak tahun 2001. Ia dipercaya menjadi salah satu dosen praktisi
yang mengajar ilmu dibidang komunikasi khususnya yang terkait dengan dunia
broadcast dan siaran radio. Tetapi didalam perjalanan mengajar di universitas
tersebut, ia berusaha untuk mencapai kompetensi standart yang telah
diberlakukan, guna memperkaya keilmuan yang dimiliki sebagai bekal dimasa depan
untuk terjun didunia broadcast.
Dosen yang sederhana dan penuh
kewibawaan ini memiliki pengalaman dalam bidang jurnalistik yang cukup
memuaskan. Ia sedari dulu aktif dalam mengikuti segala aktivitas yang bergerak
dibidang broadcasting, khususnya siaran Radio. Ia juga sempat berkecimpung
dalam KORSI DUMA RRI Surabaya, yang merupakan wadah bagi para mahasiswa dalam
mengembangkan bakatnya di dunia broadcast sejak tahun 1987 sampai dengan tahun
1990. Selain itu, ia juga mengikuti kegiatan di luar kampus dibidang jurnalistik
yang bernama SIDUMA (Siaran Dunia Mahasiswa).
Hingga kini, dosen yang penuh
ketenangan dan kehangatan ini dipercayai untuk mengajar mata kuliah Hukum Etika
Media dan segala teori yang berkaitan langsung dengan jurnalistik. Tidak hanya
itu, ia juga dikenal sebagai sosok dosen yang penuh dengan keikhlasan didalam
menyampaikan sebuah ilmu bagi para mahasiswa yang ia ajar. Ia juga seringkali
berucap bahwa keinginan yang tersirat dalam benaknya tidak lain adalah melihat
para mahasiswanya sukses dalam menekuni segala bentuk passion atau talenta yang
dimilikinya.
Dosen berparas bundar ini tak pernah
sedikitpun merasa lelah saat mengajar. Yang ada justru ia merasa senang dengan
amanah yang tengah dikerjakan. Ia adalah sosok dosen yang sabar dalam berlisan.
Tak ada satu pun kata yang terucap menyakitkan. Karena itu banyak sekali
mahasiswa yang merasa tentram saat diajar.
Pak Didin adalah orang yang tak
pernah sekalipun memikirkan imbalan dari apa yang tengah diupayakan. Ia adalah
sosok yang begitu tekun, pekerja keras, dan mau berusaha untuk dirinya dan
orang – orang disekitarnya. Dia selalu belajar atas segala hal yang pernah ia
jumpai dalam perjalanan hidupnya. Walau sulit, namun tak mampu membuatnya
gentar dan berbalik arah.
Ia selalu mengatakan bahwa yang
namanya hidup tak pernah terlepas dari yang namanya rintangan. Dan itu sudah
menjadi hal yang tak mungkin lagi bisa terelakkan. Sebagaimana pada masa – masa
sulit seperti hari ini, dimana ada jarak yang membentang memaksa tidak ada
namanya pertemuan. Segala hal dilakukan dengan menggunakan jaringan. Namun hal
ini tak membuatnya gentar untuk terus menyuarakan khasanah keilmuan.
Ya begitulah sosoknya, gigih dan tak
pernah putus berjuang. Tak pernah sedetikpun terbesit dalam angannya untuk membranding
namanya dalam jajaran kependidikan. Tujuannya hanya ingin membentuk generasi
yang menjunjung tinggi nilai – nilai yang telah diajarkan.
Bahagianya hanya sekedar melihat
anak didiknya memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam hal yang telah diajarkan.
Itulah ia, sosok yang senantiasa
meyakinkan bahwa pandemic bukanlah hambatan untuk terus belajar. Meyakinkan
para mahasiswanya untuk terus bangkit dan beradaptasi dengan lingkungan belajar
yang mungkin baru dirasakan. Tetapi tak lupa untuk tetap bekerja secara
professional dan maksimal, serta menghasilkan sebuah karya yang luar
biasa.
”Jangan putus asa, mari terus
belajar meraih peluang untuk jadi pemenang. Terus perdalam dan perkaya ilmu
yang kita miliki secara praktisi sampai mampu menciptakan sebuah karya yang
sesuai dengan inovasi.” Begitulah
pesan yang seringkali disampaikan kepada mahasiswanya diberbagai
kesempatan.
Ia sangat ingin sekali melihat para
mahasiswanya memiliki kesiapan yang matang setelah lulus untuk terjun di pasar
kerja, bahkan ikhlas mengabdikan diri dalam masyarakat dengan keilmuan yang
dimiliki. Dan yang pastinya, menjunjung tinggi nilai – nilai yang didapatkan
dari menimba ilmu di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Serta
membawa nilai – nilai profesionalitas dan integritas dari Fakultas Dakwah dan
Komunikasi.
Selama menjadi dosen di UINSA, ada
beberapa hal yang mungkin belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Dimana
ia ingin membuat fakultas dakwah dikenal baik oleh masyarakat banyak, dan
membuatnya memiliki nilai terbaik dibandingkan fakultas lainnya. Ia juga ingin
adanya siaran secara live dalam kampus dari pagi hingga menjelang sore,
layaknya siaran radio yang profesionalitas meskipun masih menggunakan format
kampus.
Ya radio adalah jalan terjal beliau
selain mengajar. Namun untuk saat ini, ia lebih sering menghabiskan banyak
waktunya untuk mengajar dan memperbanyak keilmuannya didunia broadcast.
Sehingga setelah pensiun, ia punya bekal dalam dunia jurnalistik. Jadi tak
heran bila ia memiliki kemampuan menjadi seorang reporter dan hal – hal lain
yang berikatan dengan broadcast dan jurnalistik. Karena prospek kerja untuk
dunia broadcast dan jurnalistik tergolong cukup luas.
Ia juga mengatakan bahwa sesulit apa
rintangan dan hambatannya, ia cukup mensyukuri dan melakukannya dengan santai
saja. Karena mengingat hal ini adalah menjadi bagian dari yang disenangi,
sehingga bagaimanapun beratnya akan tetap terasa ringan karena suka.
Sebagaimana tuturnya bila tak ada pekerjaan yang tidak mengandung resiko. Semua
pasti ada suka dan dukanya. Tapi ia sangat menyenangi apa yang setiap ia
usahakan dan kerjakan. Termasuk fokus dalam mengajar.
Banyak sekali harapan yang ia taruh
kepada para mahasiswa yang diajarnya. Salah satunya yaitu ingin melihat mereka
untuk terus berupaya mengembangkan ilmu yang telah disampaikan, baik itu
jurnalistik, broadcasting, maupun etika hukum media. Dan selalu siap untuk
menghadapi masyarakat, pasar kerja dan juga situasi yang terus berubah – ubah.
Terus berusaha untuk meningkatkan kekreatifan dan inovasi dalam berkarya,
mengingat saat ini berada dizaman digital. Dimana jika tidak beradaptasi dan
menyesuaikan diri maka akan jauh tertinggal.
“Yang membuat kita bisa sukses dan
berhasil itu bukan fakultas, tapi keberanian dalam mengambil tantangan ataupun
resiko saat berada di dunia kerja.”
Dosen yang ramah dan baik hati ini
selalu mengatakan :
“Saya senang takdir membawa saya
pada tempat ini, walaupun tidak menjadi dosen tetap dan hanya sekedar dosen
praktikum, tetapi saya senang bisa sharing segala hal tentang ilmu ataupun
knowledge dengan para mahasiswa maupun kerabat dosen yang lainnya.”
Ia juga tak pernah lupa mengingatkan
mahasiswanya untuk terus berlatih dengan sungguh – sungguh mengasah skill
kemampuan yang dimiliki atau passion yang diminati. Selain itu, meminta
mahasiswanya untuk aktif dalam mengikuti organisasi maupun kegiatan kampus guna
membentuk relasi dan menambah pengalaman hidup. Serta turut aktif dalam mengikuti
webinar, workshop, maupun seminar untuk memperkaya khasanah keilmuan yang
dimiliki.
Ya begitulah sosoknya, ia merupakan
salah satu dosen yang dapat menjadi teladan bagi kita semua agar selalu
menemukan motivasi dan cara pandang yang lain dalam mencintai segala pekerjaan
yang kita jalani. Karena pointnya bekerja tidak hanya sekedar mencari uang
saja, tetapi juga memberikan manfaat kepada semua pihak yang ada disekitar
kita. Dan dengan ciri khas mengajarnya yang sederhana dan santai, membuat semua
orang respect kepada setiap yang telah diusahakannya. Karena sebanyak apapun
mahasiswanya melakukan kesalahan, ia tak pernah marah ataupun merendahkannya,
tapi yang ada justru menerima dan memaafkannya serta merangkulnya untuk terus
bangkit dan menjadi sosok yang lebih baik dari yang sebelumnya. Itulah sebabnya
ia cocok menyandang gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.